Jumat, 21 Oktober 2011

IDE DAN PELUANG KEWIRAUSAHAAN


1 Ide Kewirausahaan
Seperti telah dikemukakan bahwa (wirausaha dapat manambah nilai suatu, barang dan jasa melalui inovasi) Keberhasilan wirausaha dicapai apabila wirausaha menggunakan produk, proses, dan jasa-jasa inovasi sebagai alat untuk menggali perubahan. Oleh sebab itu inovasi merupakan instrumen penting untuk memberdayakan sumber-sumber agar menghasilkan sesuatu yang baru dan menciptakan ketangguhan kewirausahaan sebagai penggerak perekonomian terletak pada kreasi baru untuk menciptakan nilai secara terus-menerus. Wirausaha dapat menciptakan nilai dengan cara mengubah semua tantangan menjadi peluang melalui ide-idenya dan akhirnya ia menjadi pengendali usaha (business driven). Sernua tantangan bisa menjadi peluang apabila ada inovasi, misalnya menciptakan permintaan melalui penemuan baru Dengan penemuan baru para pengusaha (business innovation) perusahaan mengendalikan pasar (mar­ket-driven), dan akhirnya membuat ketergantungan konsumen kepada produsen. Dengan demikian, produsen tidak lagi tergantung pada konsumen (seller marked) seperti falsafah pemasaran yang konvensional.
(Menurut Zimmerer, ide-ide yang berasal dari wirausaha dapat menciptakan peluang untuk memenuhi kebutuhan riil di pasar. Ide-ide itu menciptakan nilai potensial di pasar sekaligus menjadi peluang usaha)
(Dalam mengevaluasi untuk menciptakan nilai-nilai potensial (peluang usaha), wirausaha perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua risiko mungkin terjadi dengan cara):
(1)     Pengurangan kemungkinan risiko melalui melalui strategi yang proaktif.
(2)     Penyebaran risiko pada aspek yang paling mungkin.
(3)     pengelolaan risiko yang mendatangkan nilai atau manfaat.
Ada tiga risiko yang dapat dievaluasi, yaitu: (1) Risiko pasar atau risiko persaingan, (2) Risiko finansial, dan (3) Risiko teknik. Risiko pasar terjadi akibat adanya ketidakpastian pasar. Risiko finansial terjadi akibat rendahnya hasil penjualan dan tingginya biaya. Risiko teknik terjadi sebagai akibat adanya kegagalan teknik Pada hakikatnya, ketidakpastian pasar terjadi akibat dari berbagai faktor seperti lingkungan ekonomi, teknologi, demografi, dan sosial politik.
Menurut Zimmerer (1996: 82) kreativitas sering kali muncul dalam bentuk ide-ide untuk menghasilkan barang dan jasa-jasa baru/ Ide itu sendiri bukan peluang dan tidak akan muncul bila wirausaha tidak mengadakan evaluasi dan pengamatan secara terus menerus. Banyak ide yang betul-betul asli, akan tetapi sebagian besar peluang tercipta ketika wirausaha memiliki cara pandang baru terhadap ide yang lama Pertanyaannya, bagaimana ide bisa_menjadi peluang. Ada beberapa cara, antara lain:
(1)     Ide dapat digerakkan secara internal melalui perubahan cara-cara/metode yang lebih-lebih baik untuk melayani dan memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya.
(2)     Ide dapat dihasilkan dalam bentuk produk dan jasa baru.
(3)     Ide dapat dihasilkan dalam bentuk modifikasi bagaimana pekerjaan dilakukan atau modifikasi cara melakukan suatu pekerjaan.
Hasil dari ide-ide tersebut secara keseluruhan adalah perubahan dalam bentuk arahan atau petunjuk bagi perusahaan atau kreasi baru tentang barang yang dihasilkan perusahaan. Banyak wirausaha yang berhasil bukan atas ide sendiri tetapi hasil pengamatan dan penerapan ide-ide orang lain yang bisa dijadikan peluang.

2 Sumber-Sumber Potensial Peluang
Agar ide-ide yang masih potensial menjadi peluang bisnis yang riil, maka wirausaha harus bersedia melakukan evaluasi terhadap peluang secara terus-menerus (proses penjaringan ide atau disebut proses screening merupakan suatu cara terbaik untuk menuangkan ide potensial menjadi produk dan jasa riil. Adapun langkah dalam penjaringan (screening) ide dapat dilakukan sebagai berikut:

(1)     Menciptakan Produk Baru dan Berbeda. Ketika ide dimunculkan secara riil atau nyata, misalnya dalam bentuk barang dan jasa baru, maka produk dan jasa tersebut harus berbeda dengan produk dan jasa yang ada di pasar. Selain itu, produk dan jasa tersebut harus menciptakan nilai bagi pembeli atau penggunanya. Agar berguna, barang dan jasa itu harus bernilai bagi konsumen baik pelanggan maupun konsumen potensial lainnya. Oleh sebab itu, wirausaha harus benar-benar mengetahui perilaku konsumen di pasar. Dalam mengamati perilaku pasar, paling sedikit ada dua unsur pasar yang perlu diperhatikan:
(a)    permintaan terhadap barang/jasa yang dihasilkan.
(b)   Waktu penyerahan dan waktu permintaan barang/jasa.
Dengan demikian, jelaslah bahwa wirausaha yang sukses perlu menciptakan produk dan jasa unggul yang memberikan nilai kepada konsumen. Misalnya, apakah produk-produk barang dan jasa tersebut dapat meningkatkan efisiensi bagi pemakainya? Berapa besarnya? Apakah perbaikan dalam efisiensi dapat diketahui oleh pembeli potensial? Berapa persen target yang ingin dicapai dari segmentasi tersebut? Pertanyaan-pertanyaan di atas penting dalam menciptakan peluang.
Secara implisit, apabila wirausaha baru memfokuskan pada segmen pasar, maka secara spesifik peluang itu akan sangat tergantung pada perilaku segmen pasar. Kemampuan untuk memperoleh peluang itu sendiri sangat tergantung pada kemampuan wirausaha untuk menganalisis pasar yang meliputi aspek:
(a)    Kemampuan untuk menganalisis demografi pasar.
(b)   Kemampuan untuk menganalisis sifat serta tingkah laku pesaing.
(c)    Kemampuan untuk menganalisis keunggulan bersaing pesaing dan kefakuman pesaing yang dianggap dapat menciptakan peluang.
(2)   Mengamati Pintu Peluang. Wirausaha harus mengamati potensi-potensi yang memiliki pesaing, misalnya kemungkinan pesaing mengembangkan produk baru, pengalaman keberhasilan dalam mengembangkan produk baru, dukungan keuangan, dan keunggulan-keunggulan yang dimiliki pesaing di pasar. Kemampuan pesaing untuk mempertahankan posisi pasar dapat dievaluasi dengan mengamati kelemahan-kelemahan dan risiko pesaing dalam menanamkan modal barunya.
Untuk mengetahui kelemahan, kekuatan, dan peluang yang dimiliki pesaing dan peluang yang dapat kita peroleh, ada beberapa pertanyaan penting, yaitu:
(a)             Pertanyaan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing dalam pengembangan produk, meliputi:
·         Bagaimana kemampuan teknik yang dimiliki pesaing dalam pengembangan produk jika dibandingkan kemampuan teknik yang kita miliki?
·         Bagaimana track-record pesaing untuk mencapai sukses dalam pengem­bangan produk?
(b)            Pertanyaan untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan pesaing tentang kapabilitas dan sumber-sumber yang dimiliki, meliputi:
·         Sejauh mana kemampuan dan kesediaan pesaing untuk melakukan investasi dalam pengembangan produk baru dan produk awal?
·         Keunggulan pasar apa yang dimiliki oleh pesaing?
(c)             Pertanyaan untuk menentukan apakah pintu peluang ada atau tidak, meliputi:
·         Sejauh mana kecepatan perusahaan membawa produk ke pasar dapat mendahului pesaing?
·         Apakah kapabilitas dan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan cukup untuk membawa produk ke pasar yang sedang dikuasai pesaing?
·         Apakah perusahaan memiliki kekuatan yang cukup untuk menguasai serangan pesaing?
Menurut Zimmerer (1996: 87) ada beberapa keadaan yang dapat menciptakan peluang, yaitu:
(a)    Produk baru harus segera dipasarkan dalam jangka waktu yang relatif singkat.
(b)   Kerugian teknik harus rendah. Oleh karena itu, penggunaan teknik harus dipertimbangkan sebelumnya.
(c)    Bila pesaing tidak begitu agresif untuk mengembangkan strategi produknya.
(d)   Pesaing tidak memiliki teknologi canggih.
(e)    Pesaing sejak awal tidak memiliki strategi dalam mempertahankan posisi pasarnya.
(f)    Perusahaan baru memiliki kemampuan dan sumber-sumber untuk menghasilkan produk barunya.
(3) Analisis Produk dan Proses Produksi Secara Mendalam. Analisis ini sangat penting untuk menjamin apakah jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan memadai atau tidak. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat produk tersebut? Apakah biaya yang kita keluarkan lebih efisien daripada biaya yang dikeluarkan oleh pesaing?
(4) Menaksir Biaya Awal, yaitu biaya awal yang diperlukan oleh usaha baru. Dari mana sumbernya dan untuk apa digunakan? Berapa yang diperlukan untuk operasi, untuk perluasan dan untuk biaya lainnya?
(5) Memperhitungkan Risiko yang Mungkin Terjadi, misalnya risiko teknik, risiko finansial, dan risiko pesaing. Jangka pesaing adalah kemampuan dan kesediaan pesaing untuk mempertahankan posisinya di pasar. Risi Pesaing meliputi pertanyaan: (1) Kemungkinan kesamaan dan keunggulan produk apa yang dikembangkan pesaing? (2) Tingkat keberhasilan apa yang telah dicapai oleh pesaing dalam pengembangan produknya? (3) Seberapa jauh dukungan keuangan pesaing bagi pengembangan produk baru dan produk yang diperkenalkannya? (4) Apakah perusahaan baru cukup kuat untuk mengatasi serangan-serangan pesaing?
Sedangkan risiko teknik berhubungan dengan proses pengembangan produk yang cocok dengan yang diharapkan atau menyangkut suatu objek penentu apakah ide secara aktual dapat ditransformasi menjadi produk yang siap dipasarkan dengan kapabilitas dan karakteristiknya. Risiko finansial adalah risiko yang timbul sebagai akibat ketidakcukupan finansial baik dalam tahap pengembangan produk baru maupun dalam menciptakan dan mempertahankan perusahaan untuk mendukung biaya produk baru.
Analisis kelemahan, kekuatan, peluang, dan ancaman atau analisis strength, de weakness, opportunity, and threat (SWOT) sangat penting dalam menciptakan keberhasilan perusahaan baru.

3 Bekal Pengetahuan Dan Kompetensi Kewirausahaan
Seperti dikemukakan dalam hasil survei yang dilakukan oleh Lambing, (2000) bahwa kebanyakan responder yang menjadi wirausaha berasal dari pengalaman sehingga ia memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jadi, untuk menjadi wirausaha yang berhasil, bersyaratan utama yang harus dimiliki adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan, kompetensi. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha.
Seperti telah dikemukakan, bahwa seseorang wirausaha adalah seseorang yang memiiki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. la adalah jarang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda : (ability to create the new and different) atau kemampuan kreatif dan inovati (Kemampuan aktif dan inovatif tersebut secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk dimulai usaha (start-up), kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang (opportunity), kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk pengembangkan ide dan meramu sumber daya. Kemauan dan kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan terutama untuk :
(1)   menghasilkan produk atau jasa baru (the new product or new service).
(2)   Menghasilkan nilai tambah baru (the new value added).
(3)   Merintis usaha baru (new businesess).
(4)   Melakukan proses/teknik baru (the new technic).
(5)   Mengembangkan organisasi baru (the new organization).

Wirausaha berfungsi sebagai perencana (planner) sekaligus sebagai pelaksana usaha (businessman). sebagai perencana (planner), wirausaha berperan:
(1)   Merancang perusahaan (corporate plan).
(2)   Mengatur strategi perusahaan (corporate strategy).
(3)   Pemrakarsa ide-ide perusahaan (corporate image).
(4)   Pemegang visi untuk memimpin (visioner leader).
Sedangkan sebagai pelaksana usaha (businessman), wirausaha berperan:
(1)   Menemukan, menciptakan, dan menerapkan ide baru yang berbeda (create the new and different).
(2)   Meniru dan menduplikasi (imitating and duplicating).
(3)   Meniru dan memodifikasi (imitating and modification).
(4)   Mengembangkan (develop) produk baru, teknologi baru, citra baru, dan organisasi baru.
Karena wirausaha identik dengan pengusaha kecil yang berperan sebagai pemilik dan manajer, maka wirausahalah yang memodali, mengatur, mengawasi, menikmati, dan menanggung risiko. Seperti telah dibahas pada Bab 3 bahwa untuk menjadi wirausaha pertama-tama yang harus dimiliki adalah modal dasar berupa ide atau visi yang jelas kemampuan dan komitmen kecukupan modal baik uang maupun waktu, kecukupan tenaga dan pikiran. Modal-modal tersebut sebenarnya tidak cukup apabila tidak dilengkapi dengan beberapa kemampuan (ability). Menurut Casson (1982), yang dikutip Yuyun  Wirasasmita (1993: 3) ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki, yaitu:
(1)   Self knowledge, yaitu memiliki pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukannya atau ditekuninya.
(2)   Imagination, yaitu memiliki imajinasi, ide, dan perspektif serta tidak mengandalkan pada sukses di masa lalu.
(3)   Practical knowledge, yaitu memiliki pengetahuan praktis misalnya pengetahuan teknik, desain, pemrosesan, pembukuan, administrasi, dan pemasaran.
(4)   Search skill, yaitu kemampuan untuk menemukan, berkreasi, dan berimajinasi.
(5)   Foresight, yaitu berpandangan jauh ke depan.
(6)   Computation skill, yaitu kemampuan berhitung dan kemampuan memprediksi keadaan masa yang akan datang.
(7)   Communication skill, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, bergaul, dan berhubungan dengan orang lain.
Dengan beberapa keterampilan dasar di atas, maka seseorang akan memiliki kemampuan (kompetensi) dalam kewirausahaan. Menurut Dan & Bradstreet Business Credit Service (1993: 1), ada 10 kompetensi yang harus dimiliki, wirausaha, yaitu:
(1)   Knowing your business, yaitu harus mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausaha harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan lakukan. Misalnya, seorang yang akan melakukan bisnis perhotelan maka ia harus memiliki pengetahuan tentang perhotelan. Untuk bisnis pemasaran komputer, ia harus memiliki pengetahuan tentang cara memasarkan komputer.
(2)   Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan Ac bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasikan dan mengendalikan ke perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat, cara, proses, dan pengelolaan semua sumber daya perusahaan secara efektif dan efisien.
(3)   Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang benar terhadap usaha yang dilakukannya. Ia harus bersikap sebagai pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sungguh-sungguh, dan tidak setengah hati.
(4)   Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga moril. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu cukup uang, tenaga, tempat, dan mental.
(5)   Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan mengatur/mengelola keuangan secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannya secara tepat, serta mengendalikannya secara akurat.
(6)   Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
(7)    Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan, menggerakan (memotivasi), dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
(8)   Satisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat, dan memuaskan.
(9)   Knowing how to compete, yaitu mengatahui strategi / cara bersaing. Wirausaha, harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) dirinya dan pesaing. Ia harus menggunakan analisis SWOT baik terhadap dirinya maupun terhadap pesaing.
(10)        Copying with regulations and paperwork, yaitu membuat aturan/pedoman yang jelas (tersurat, tidak tersirat).
Di samping keterampilan dan kemampuan, wirausaha juga harus memiliki pengalaman yang seimbang. Menurut A. Kuriloff, John M. Memphil, Jr dan Douglas Doud (1993: 8) ada empat kemampuan utama yang diperlukan untuk mencapai pengalaman yang seimbang agar kewirausahaan berhasil, di antaranya:
(1)            Technical competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang rancang bangun (know-how) sesuai dengan bentuk usaha yang akan dipilih. Misalnya, kemampuan dalam bidang teknik produksi dan desain produksi. Ia harus betul-betul mengetahui bagaimana barang dan jasa itu dihasilkan dan disajikan.
(2)            Marketing competence, yaitu memiliki kompetensi dalam menemukan pasar yang cocok, mengidentifikasi pelanggan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. la harus mengetahui bagaimana menemukan peluang pasar yang spesifik, misalnya pelanggan dan harga khusus yang belum dikelola pesaing.
(3)            Financial competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang keuangan, mengatur pembelian, penjualan, pembukuan, dan perhitungan laba/rugi. la harus mengetahui bagaimana mendapatkan dana dan menggunakannya.
(4)            Human relation competence, yaitu kompetensi dalam mengembangkan hubungan per­sonal, seperti kemampuan berelasi dan menjalin kemitraan antar-perusahaan. la harus mengetahui hubungan inter-personal secara sehat.
Sedangkan menurut  Norman " M. Scarborough   (1993), kompetensi kewirausahaan yang diperlukan sebagai syarat-syarat bisnis tersebut, meliputi:
(1)   Proaktif, yaitu selalu ada inisiatif dan tegas dalam melaksanakan tugas.
(2)   Berorientasi pada prestasi/kemajuan, cirinya:
(a)    Selalu mencari peluang.
(b)   Berorientasi pada efisiensi.
(c)    Konsentrasi untuk kerja keras.
(d)   Perencanaan yang sistematis.
(e)    Selalu memonitor (check and recheck).
(3)   Komitmen terhadap perusahaan atau orang lain, cirinya:
(a)    Selalu penuh komitmen dalam mengadakan kontrak kerja.
(b)   Mengenali pentingnya hubungan bisnis.
Umumnya, wirausaha yang memiliki kompetensi-kompetensi tersebut, cenderung berhasil dalam berwirausaha. Oleh karena itu, bekal kewirausahaan yang berupa pengetahuan dan bekal keterampilan kewirausahaan perlu dimiliki. Beberapa bekal pengetahuan yang perlu dimiliki misalnya:
(1)   Bekal pengetahuan bidang usaha yang dimasuki dan lingkungan usaha yang ada di sekitarnya.
(2)   Bekal pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab.
(3)   Pengetahuan tentang kepribadian dan kemampuan diri.
(4)   Pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisnis.
Dalam lingkungan usaha yang semakin kompetitif, pengetahuan keahlian dalam bidang perusahaan yang dilakukan mutlak diperlukan bagi seorang wirausaha. Pengetahuan keahlian dalam bidang perusahaan itu di antaranya pengetahuan tentang pasar dan strategi pemasarannya, pengetahuan tentang konsumen (pelanggan), pengetahuan tJntang pesaing, baik yang baru masuk maupun yang sudah ada, pengetahuan tentang pemasok, pengetahuan tentang cara mendistribusikan barang dan jasa yang dihasilkan, termasuk kemampuan menganalisis dan mendiagnosis pelanggan, mengidentifikasi segmentasi, dan motivasinya. Di samping itu, sangat penting pengetahuan spesifik seperti pengetahuan tentang prinsip-prinsip akuntansi dan pembukuan, jadwal produksi, manajemen personalia, manajemen keuangan, pemasaran, dan perencanaan.
Bekal pengetahuan saja tidaklah cukup jika tidak dilengkapi dengan bekal keterampilan. Beberapa hasil penelitian terhadap usaha kecil menunjukkan bahwa sebagian besar wirausaha yang berhasil cenderung memiliki tingkat keterampilan khusus cukup. Beberapa keterampilan yang perlu dimiliki itu di antaranya:
(1)   Keterampilan konseptual dalam mengatur strategi dan memperhitungkan risiko.
(2)   Keterampilan kreatif dalam menciptakan nilai tambah.
(3)   Keterampilan dalam memimpin dan mengelola.
(4)   Keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi
(5)   Keterampilan teknik dalam bidang usaha yang dilakukan.          
Pengetahuan, keterampilan, dan kamampuan kewirausahaan itulah yang membentuk kepribadian wirausaha. Menurut Dan Bradstreet (1993), pengusaha kecil harus memiliki kepribadian khusus yaitu penuh pendirian, realistic, penuh harapan, dan penuh komitmen. Modal yang cukup, bisa diperoleh apabila perusahaan mampu mengembangkan hubungan baik dengan lembaga-lembaga keuangan, karena dengan nubungan baik itulah akan menambah kepercayaan dari penyandang dana. Penggunaan Jana tersebut harus efektif agar memperoleh kepercayaan yang terus-menerus. Menurut Ronald J. Ebert (2000: 117) bahwa efektivitas manajer perusahaan tergantung pada keterampilan dan kemampuan. Keterampilan dasar manajemen (Basic Management Skill) tersebut meliput:
(1)            Technical skill, yaitu keterampilan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas khusus, seperti sekretaris, akuntan-auditor, dan ahli gambar.
(2)            Human relations skill, yaitu keterampilan untuk memahami, mengerti, berkomunikasi, dan berelasi dengan orang lain dalam organisasi.
(3)            Conceptual skill, yaitu kemampuan personal untuk berpikir abstrak, untuk mendiagnosis dan untuk menganalisis situasi yang berbeda, dan melihat situasi luar. Keterampilan konseptual sangat penting untuk memperoleh peluang pasar baru dan menghadapi tantangan.
(4)            Decision making skill, yaitu keterampilan untuk merumuskan masalah dan memilih cara bertindak yang terbaik untuk mernecahkan masalah tersebut. Ada tiga tahap utama dalam pengambilan keputusan, yaitu:
(a)    Merumuskan masalah, mangumpulkan fakta, dan mengidentifikasi alternatif pernecahannya.
(b)   Mengevaluasi setiap alternatif dan memilih alternatif yang terbaik.
(c)    Mengimplementasikan alternatif yang terpilih, menindaklanjutinya secara periodik, dan mengevaluasi keefektifan yang telah dipilih tersebut.
(5)            Time management skill, yaitu keterampilan dalam menggunakan dan mengatur waktu seproduktif inungkin.
Kemampuan mengusai persaingan, merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam bisnis. Wirausaha harus mengetahui kelemahan dan kekuatan sendiri, dan kekuatan serta kelemahan yang dimiliki persaing. seperti dikemukakan Dan & Bradstreet (1993): "My best advice for competing successfully is to find your own distinctive niche in the marketplace". Seorang wirausaha harus memiliki keunggulan yang merupakan kekuatan bagi dirinya dan harus memperbaiki kelemahan agar menghasilkan keunggulan. dan kekuatan yang kita miliki atau kekuatan dan kelemahan yang dimiliki pesaing merupakan peluang yang harus digali. Kekuatan-kekuatan dan kelemahan-­kelemahan tersebut biasanya tampak dalam berbagai hal, misalnya dalam pelayanan, harga barang, kualitas barang, distribusi, promosi, dan lain-lain. Variabel-variabel dalam bauran pemasaran (marketing mix) secara strategis pada umumnya bisa dijadikan peluang. Semua informasi tentang kekuatan dan kelemahan perusahaan dapat diperoleh dari berbagai sumber, misalnya dari pelanggan, karyawan, lingkungan sekitar, distributor, laporan rutin, periklanan, dan pameran dagang.
Jelaslah bahwa kemampuan tertentu mutlak diperlukan bagi seorang wirausaha. Seperti telah dikemukakan dalam Small Busines Development Centre (5-6) bahwa wirausaha yang berhasil memiliki lima kompetensi yang merupakan fungsi dari kapabilitas yang diperlukan, yaitu technical, marketing, personnel, and management. Wirausaha sebagai manajer dan sekaligus sebagai pemilik perusahaan dalam mencapai keberhasilan usahanya harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap, tujuan, pandai mencari peluang, dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Menurut Small Business Development Center, untuk mencapai keberhasilan usaha yang dimiliki sendiri, sangatlah tergantung pada:
(1)   Individual skills and attitudes, yaitu keterampilan dan sikap individual.
(2)   Knowledge of business, yaitu pengetahuan tentang usaha yang akan dilakukan.
(3)   Establishment of goal, yaitu kemantapan dalam menentukan tujuan perusahaan.
(4)   Take advantages of the apportunities, yaitu keunggulan dalam mencari peluang-peluang.
(5)   Adapt to the change, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan.
(6)   Minimize the threats to business, yaitu kemampuan untuk meminimalkan ancaman terhadap perusahaan.
Di samping bekal pengetahuan dan keterampilan di atas, pada akhirnya seorang wirausaha harus memiliki perencanaan strategis yaitu suatu proses penentuan tujuan, menetapkan langkah-langkah yang harus diambil untuk mengidentifikasi sumber-sumber daya perusahaan, misalnya fasilitas, pasar, produk/jasa, dana, dan karyawan. Strategi tersebut sangat penting agar para wirausaha dapat menggunakan sumber daya seoptimal mungkin. Dengan lebih proaktif dalam menghadapi perubahan, dan selalu memotivasi karyawan maka peluang untuk mencapai keberhasilan lebih mudah diwujudkan. Menurut Allan Fillet dan Robert W. Price (1991:1-2) untuk mencapai keberhasilan dalam wirausaha khususnyq.perusahaan kecil, ada beberapa klasifikasi strategi yang harus dimiliki, meliputi:
(1)   Craft; firms are prepared by people who are technical specialist.
(2)   Promotion; promotion are typically dominated by their leader and 'are designed to exploit some kind of innovative advantages.
(3)   Administrative; administrative firm have formal management and are built around neccesary business function.
Menurut Alan C. Fillet' dan Robert W Pricer (1991: 1)".. karena perusahaan kecil kerja, tergantung pada lingkungan setempat, maka perusahaan tersebut akan berhasil bila
lingkungan stabil. Jadi asumsinya lingkungan harus stabil. Oleh sebab itu, pada umumnya perusahaan kecil menggunakan kecakapan khusus atau human skill. Human skill adalah kemampuan untuk bekerja, memahami, dan kemampuan untuk memotivasi orang- C, orang, baik sebagai individu maupun kelompok. Selanjutnya, conceptual skill merupakan me mental ability untuk menganalisis dan mendiagnosis situasi yang kompleks. Jadi, ability ME diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk melakukan berbagai tugas dalam perusahaan. Dalam rumusan yang lebih sederhana, kemampuan berwirausaha bisa dilihat dari keterampilan manajerial. Robert Katz yang dikutip oleh Stephen P. Robbins da (1993) mengemukakan tentang management skill, yang meliputi kemampuan technical, human, dan conceptual. Technical skill adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan "craft firm". Human skill  adalah kemampuan bersosialisasi, bergaul dan ka berkomunikasi, dan conceptualskill adalah kemampuan merencanakan, merumuskan, ME meramalkan, atau memprediksikan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi wirausaha yang berhasil seseorang harus memiliki bekal pengetahuan kewirausahaan dan bekal keterampilan kewirausahaan. Bekal pengetahuan yang terpenting adalah bekal pengetahuan bidang usaha yang dimasuki dan lingkungan usaha, pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab, pengetahuan tentang kepribadian, kemampuan diri, pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisms. Sedangkan bekal keterampilan yang perlu dimiliki meliputi keterampilan konseptual dalam mengatur strategi dan kreatif       keuntungan risiko, keterampilan kreatif dalam menciptakan nilai tambah, keterampilan dalam berkomunikasi dan memimpin dan mengelola, keterampilan berinteraksi, serta keterampilan teknis bidang usaha (Soesarsono Wijandi, 1988: 29).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar