Jumat, 21 Oktober 2011

KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN

1 Disiplin Ilmu Kewirausahaan
Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. Dalam konteks bisnis, menurut Thomas W. Zimmerer (1996) “Entrepreneurship is the result of a disciplined,systematic process of applying creativity and innovations to needs and opportunitiesin the marketplace”.  Kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin, proses sistematis penerapan kreativitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.
Dahulu, kewirausahaan diangap hanya dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan dan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir (entrepreneurship are bom notmade), sehingga kewirausahaan tidak dapat dipelajari dan diajarkan. Sekarang, kewirausahaan bukan hanya urusan lapangan, tetapi merupakan disiplin ilmu yang dapat dipelajari dan diajarkan. "Entrepreneurship are not only born but also made”, artinya kewirausahaan tidak hanya bakat bawaan sejak lahir atau urusan pengalaman lapangan, tetapi juga dapat dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Memang menjadi entrepreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi (traits) dan belajar mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisir usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan mengenal segala aspek usaha yang akan ditekuninya.
Dilihat dari perkembangannya, sejak awal abad ke-20 kewirausahaan sudah diperkenalkan di beberapa negara. Misalnya di Belanda dikenal dengan "ondernemer", di Jerman dikenal dengan "unternehmer". Di beberapa negara, kewirausahaan memiliki banyak tanggung jawab antara lain tanggung jawab dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepemimpman teknis, kepemimpinan organisasi dan komersial, penyediaan modal, penerimaan dan penanganan tenaga kerja, pembelian, penjualan, pemasangan iklan, dan lain-lain. Kemudian, pada tahun 1950-an pendidikan kewirausahaan mulai dirintis di beberapa negara seperti di Eropa, Amerika, dan Canada. Bahkan sejak tahun 1970-an banyak universitas yang mengajarkan "entrepreneurship" atau "small business management" atau "new venture management". Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan masih terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja.
Sejalan dengan tuntutan perubahan yang cepat pada paradigma pertumbuhan yang wajar (growth-equity paradigm shift) dan perubahan ke arah globalisasi (globalization paradigm shift) yang menuntut adanya keunggulan, pemerataan, dan persaingan, maka dewasa sedang terjadi perubahan paradigma pendidikan (paradigm shift). Menurut Soeharto Prawirokusumo (1997: 4) pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen (independent academic dicipline), karena:
(1)   Kewirausahaan berisi body of knowledge yang utuh dan nyata (distinctive), yaitu ads teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.
(2)   Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi venture start-up dan venture-growth, ini jelas tidak masuk dalam kerangka pendidikan manajemen umum (frame work general management courses) yang memisahkan antara manajemen dan kepemilikan usaha (business ownership).
(3)   Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create new and different things).
(4)   Kewirausahaan merupakan slat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan (wealth creation process an entrepreneurial endeavor by its own night, nation's prosperity, individual self-reliance) atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Seperti halnya ilmu manajemen yang awalnya berkembang di bidang industri, kemudian berkembang dan diterapkan di berbagai bidang lainnya, maka disiplin ilmu kewirausahaan dalam perkembangannya mengalami evolusi yang pesat. Pada mulanya kewirausahaan berkembang dalam bidang perdagangan, namun kemudian diterapkan di berbagai bidang lain seperti industri, perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan institusi­-institusi lain seperti lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya lainnya. Dalam bidang-bidang tertentu, kewirausahaan telah dijadikan kompetensi inti (core compe­tency) dalam menciptakan perubahan, pembaharuan, dan kemajuan. Kewirausahaan tidak hanya dapat digunakan sebagai kiat-kiat bisnis jangka pendek tetapi juga sebagai kiat kehidupan secara umum dalam jangka panjang untuk menciptakan peluang. Di bidang bisnis misalnya, perusahaan sukses dan memperoleh peluang besar karena memiliki kreativitas dan inovasi. Melalui proses kreatif dan inovatif, wirausaha menciptakan nilai tambah atas barang dan jasa. Nilai tambah barang dan jasa yang diciptakan melalui proses kreatif dan inovatif banyak menciptakan berbagai keunggulan termasuk keunggulan pesaing. Perusahaan seperti Microsoft, Sony, dan Toyota Motor, merupakan contoh perusahaan yang sukses dalam produknya, karena memiliki kreativitas dan inovasi di bidang teknologi. Demikian juga di bidang pendidikan, kesehatan dan pemerintahan, kemajuan-kemajuan tertentu dapat diciptakan oleh orang-orang yang memiliki semangat, jiwa kreatif dan inovatif. David Osborne & Ted Gaebler (1992) dalam bukunya "Reinven­ting Goverment" mengemukakan bahwa dalam perkembangan dunia dewasa ini dituntut pemerintah yang beliwa kewirausahaan (entrepreneurial government). Dengan memiliki kewirausahaan, maka birokrasi dan institusi akan memiliki motivasi, optimisme, dan berlomba untuk menciptakan cara-cara baru yang lebih efisien, efektif, inovatif, fleksibel, dan adaptif.

2 Objek Studi Kewirausahaan
Seperti telah dikemukakan di atas, kewirausahaan mempelajari tentang nilai, kemarnpuan, dan perilaku seseorang dalam berkreasi dan berinovasi. Oleh sebab itu, objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan (ability) seseorang yang mewujudkan dalam bentuk perilaku. Menurut Soeparman Soemahamidjaja (1997: 14-15), kemampuan seseorang yang menjadi objek kewirausahaan meliputi:
(1)   Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha. Dalam merumuskan tujuan hidup/usaha tersebut perlu perenungan, koreksi, yang kemudian berulang-ulang dibaca dan diamati sampai memahami apa yang menjadi kemauannya.
(2)   Kemampuan memotivasi diri untuk melahirkan suatu tekad kemauan yang menyala-nyala.
(3)   Kemampuan untuk berinisiatif, yaitu mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan berinisiatif.
(4)   Kemampuan berinovasi, yang melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang akan melahirkan motivasi. Kebiasaan inovatif adalah desakan dalam diri untuk selalu mencari berbagai kemungkinan baru atau kombinasi baru apa saja yang dapat dijadikan peranti dalam menyajikan barang dan jasa bagi kemakmuran masyarakat.
(5)   Kemampuan untuk membentuk modal uang atau barang modal (capital goods).
(6)   Kemampuan untuk mengatur waktu dan membiasakan diri untuk selalu tepat waktu dalam segala tindakan melalui kebiasaan yang selalu tidak menunda pekerjaan.
(7)   Kemampuan mental yang dilandasi dengan agama.
(8)   Kemampuan untuk membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari penga­laman yang baik maupun menyakitkan.

3 Hakikat Kewirausahaan
Meskipun sampai sekarang ini belum ada terminologi yang persis sama tentang kewirausahaan (entrepreneurship), akan tetapi pada umumnya memiliki hakikat yang hampir sama yaitu merujuk pada sifat, watak dan ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam. dunia usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh (Peter F. Drucker, 1994). Menurut Drucker, kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different thing). Bahkan, entrepreneurship secara sederhana sering juga diartikan sebagai prinsip atau kemampuan wirausaha (Ibnu Soedjono, 1993; Meredith, 1996; Marzuki Usman, 1997). Istilah kewirausahaan bermula dari terjemahan entrepreneurship, yang dapat diartikan sebagai "the backbone of economy", yaitu syaraf pusat perekonomian atau sebagai "tail bone of economy", yaitu pengendali perekonomian suatu bangsa (Soeharto Wirakusumo, 1997: 1). Secara epistimologi, kewirausahaan merupakan nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) atau suatu proses dalam mengerjakan suatu yang baru (creative) dan sesuatu yang berbeda (innovative). Menurut Thomas W Zimmerer (1996: 51), kewirausahaan adalah "applying creativity and innovation to solve the problems and to exploit opportunities that people face everyday". Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan upaya untuk memanfaatkan peluang yang dihadapi setiap hari. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, inovasi, dan keberanian menghadapi risiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha baru. Kreativitas, oleh Zimmerer (1996: 51) diartikan sebagai kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan menghadapi peluang (creativity is the ability to develop new ideas and to discover new ways of looking at problems and opportunities). Sedangkan, inovasi diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk berfikir meningkatkan dan memperkaya kehidupan (innovation is the ability to apply creative soluvasitions to those problems and opportunities to enhance or to enrich people's live). Menurut Harvard's Theodore Levitt yang dikutip Zimmerer (1996: 51), kreativitas adalah thinking new things (berpikir sesuatu yang baru), sedangkan inovasi adalah doing new things (melakukan sesuatu yang baru). Keberhasilan wirausaha akan tercapai apabila berpikir dan melakukan sesuatu yang baru atau sesuatu yang lama yang dilakukan dengan cara yang baru (thinking and doing new things or old thing in new ways. Menurut Zimmerer (1996: 51), ide kreatif akan muncul apabila wirausaha melihat sesuatu yang lama dan memikirkan sesuatu yang baru atau berbeda (look at something old and think something new or different).
Dari pandangan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) adalah suatu kemampuan (ability) dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat, proses dalam menghadapi tantangan hidup.
Istilah entrepreneurship, sebenarnya berasal dari kata entrepreneur. Menurut Soeparman Soemahamidjaja (1977:2), istilah ini pertama kali digunakan oleh Cantilon dalam Essai sur la nature du commerce (1755), yaitu sebutan bagi para pedagang yang membeli barang di daerah-daerah dan kemudian menjualnya dengan harga yang tidak pasti.
Dalam konteks manajemen, pengertian entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan sumber daya seperti finansial (money), bahan mentah (materials), dan tenaga kerja (labor), untuk menghasilkan suatu produk baru, bisnis baru, proses produksi, atau pengembangan organisasi usaha (Marzuki Usman, 1997:3). Entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur (elemen-elemen) internal yang meliputi kombinasi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat, dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang usaha. Menurut Sri Edi Swasono (1978: 38), dalam konteks bisnis, wirausaha adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. Wirausaha adalah pelopor dalam bisnis, inovator, penanggung risiko, yang mempunyai visi ke depan, dan memiliki keunggulan dalam berprestasi di bidang usaha.
Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5) mengemukakan definisi wirausaha sebagai berikut:
"An entrepreneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and assem­bling the necessary resources to capitalize on those opportunities".
Menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993: 35) wirausaha adalah orang yang mengorganisir, mengelola, dan berani menanggung risiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha.
"A person who organizes, manages, and assumes the risk of a business or entreprise is an entrepreneur. Entrepreneur is individual who risks financial, material, and human resources a new way to create a new business concept or opportunities within an existing firm”.
Beberapa konsep "entrepreneur" di atas lebih menekankan pada kemampuan dan perilaku seseorang sebagai pengusaha. Bahkan Dun Steinhoff dan John F. Burgess (1993: 4), memandang kewirausahaan sebagai pengelola perusahaan kecil atau pelaksana perusahaan kecil. Menurutnya, "entrepreneur" is considered to have the same meaning as small business owner-manager" or "small busines operator".
Beberapa konsep kewirausahaan seakan-akan identik dengan kemampuan para pengusaha dalam dunia usaha (business). Padahal kewirausahaan tidak selalu identik dengan watak atau ciri pengusaha semata, karena sifat ini dimiliki juga oleh bukan pengusaha. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan baik sebagai karyawan swasta maupun pemerintah (Soeparman Soemahamidjaja, 1980). Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan mengembangkan ide,  dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (prepara­tion) hidup (Prawirokusumo, 1997:5).
Rumusan entrepreneur yang berkembang sekarang ini sebenarnya banyak berasal dari konsep Schumpeter (1934). Menurut Schumpeter, entrepreneur merupakan pengusaha yang melaksanakan kombinasi-kombinasi baru dalam bidang teknik dan komersial ke dalam bentuk praktik. Inti dari fungsi pengusaha adalah pengenalan dan pelaksanaan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang perekonomian. Kemungkinan-­kemungkinan baru yang dimaksudkan oleh Schumpeter adalah: Pertama, memperkenalkan produk baru atau kualitas baru suatu barang yang belum dikenal oleh konsumen. Kedua, melakukan suatu metode produksi baru, dari suatu penemuan ilmiah baru dan cara-cara baru untuk menangani suatu produk agar menjadi lebih mendatangkan keuntungan. Ketiga, membuka suatu pemasar baru yaitu pasar yang belum pernah ada atau belum pernah dimasuki cabang industri yang bersangkutan. Keempat, pembukaan suatu sumber dasar baru, atau setengah jadi atau sumber-sumber yang masih harus dikembangkan. Kelima, pelaksanaan organisasi baru (Yuyun Wirasasmita, 1982: 33-34).
Menurut Schumpeter (1934), fungsi pengusaha bukan pencipta atau penemu kombinasi-kombinasi baru (kecuali kalau kebetulan), tetapi lebih merupakan pelaksana dari kombinasi-kombinasi yang kreatif. pengusaha tersebut biasanya memiliki sikap yang khusus seperti sikap pedagang, pemilik industri, dan bentuk-bentuk usaha lainnya yang sejenis. Schumpeter mengemukakan dua tipe sikap dari dua subjek ekonomi, yaitu sikap pengusaha kecil biasa dan sikap pengusaha benar-benar. Sikap pengusaha yang benar-benarlah yang kemudian berkembang lebih cepat.
Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas, dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha. Oleh sebab itu, wirausaha adalah orang yang memperoleh peluang dan menciptakan suatu organisasi untuk mengejar peluang itu" (Bygrave, 1995).
Menurut Meredith (1996: 9), berwirausaha berarti memadukan watak pribadi, keuangan, dan sumber daya. Oleh karna itu, berwirausaha merupakan suatu pekerjaan atau karier yang harus bersifat fleksibel dan imajinatif, mampu merencanakan, mengambil risiko, mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan (Meredith,1996: 9). Syarat berwirausaha harus memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi peluang, mengumpulkan sumber-sumber daya yang diperlukan dan bertindak untuk memperoleh keuntungan dari peluang-peluang itu. Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses kombinasi antara sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Menurut Zimmerer (1996: 51), nilaf tambah tersebut diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut:

(1)   Pengembangan teknologi baru (developing new technology)
(2)   penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge)
(3)   Perbaikan produk dan jasa yang sudah ada (improving existing products or services)
(4)   penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources).
Meskipun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, akan tetapi sifat ini dimiliki juga oleh bukan pengusaha. Jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang memiliki perilaku inovatif dan kreatif dan pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan, dan tantangan. Misalnya birokrat, mahasiswa, dosen, dan masyarakat lainnya.
Dari beberapa konsep yang dikemukakan di atas, ada enam hakikat penting kewirausahaan, yaitu:
(1)   Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994).
(2)   Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) ( Drucker, 1959).
(3)   Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha) (Zimmerer, 1996).
(4)   Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).
(5)   Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (innovative) yang bermanfaat memberikan nilai lebih.
(6)   Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.
Berdasarkan keenam konsep di atas, secara ringkas kewirausahaan dapat didefi­nisikan sebagai suatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses, dan perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko.


4 Karakteristik Dan Nilai-Nilai Hakiki Kewirausahaan
4.1 Karakteristik Kewirausahaan
Banyak ahli yang mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda. Geoffrey G. Meredith (1996: 5-6) misalnya mengemukakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan.
Ahli lain, seperti M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993: 6-7) menge­mukakan delapan karakteristik, yang meliputi:
(1)   Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya. Seseorang yang memilki rasa tanggung jawab akan selalu mawas diri.
(2)   Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih risiko yang moderat, artinya ia selalu menghindari risiko, baik yang terlalu rendah maupun risiko yang terlalu tinggi.

(3)   Confidence in their ability to success, yaitu percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil.
(4)   Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik yang segera.
(5)   High level of energy, yaitu memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
(6)   Future orientation, yaitu berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan.
(7)   Skill at organizing, yaitu memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah.
(8)   Value of achievement over money, yaitu lebih menghargai prestasi daripada uang.

Selanjutnya, Arthur Kuriloff dan John. M. Mempil (1993: 20), mengemukakan karakteristik kewirausahaan dalam bentuk nilai-nilai dan perilaku kewirausahaan.

Wirausaha selalu berkomitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil. Ia tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Karna itu, ia selalu tekun, ulet, pantang menyerah sebelum pekerjaannya berhasil. tindakannya tidak didasari oleh spekulasi melainkan perhitungan yang matang. la berani mengambil risiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha selalu berani mengambil risiko yang moderat, artinya risiko yang diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung oleh komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata/jelas dan objektif, dan merupakan umpan balik (feed­back) bagi kelancaran kegiatannya. Dengan semangat optimisme yang tinggi karena ada hasil yang diperoleh, maka uang selalu dikelola secara proaktif dan dipandang sebagai sumber daya bukan tujuan akhir.
Beberapa ciri kewirausahaan yang dikemukakan oleh para ahli seperti di atas, secara ringkas dikemukakan oleh Vernon A Musselman (1989: 155), Wasty Sumanto (1989), dan Geoffey Meredith (1989: 5) dalam bentuk ciri-ciri berikut:
(1)          Keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri.
(2)          Kemauan untuk mengambil risiko.
(3)          Kemampuan untuk belajar dari pengalaman.
(4)          Memotivasi diri sendiri.
(5)          Semangat untuk bersaing.
(6)          Orientasi pada kerja keras.
(7)          Percaya pada diri sendiri.
(8)          Dorongan untuk berprestasi.
(9)          Tingkat energi yang tinggi.
(10)      Tegas.
(11)      Yakin pada kemampuan sendiri.

Wasty Sumanto (1989: 5) menambah ciri-ciri yang ke-12 dan ke-13 sebagai berikut:
(12)      Tidak suka uluran tangan dari pemerintah/pihak lain di masyarakat.
(13)      Tidak bergantung pada alam dan berusaha untuk tidak menyerah pada alam.

Geoffrey Meredith (1989: 5) menambahkan ciri yang ke-14 sampai dengan ke-16, yaitu:
(14)      Kepemimpinan.
(15)      Keorisinilan.
(16)      Berorientasi ke masa depan dan penuh gagasan.

Dalam mencapai keberhasilannya, seorang wirausaha memiliki ciri-ciri tertentu pula. Dalam "Entrepreneurship and Small Enterprise Development Report" (1986) yang dikutip langsung oleh M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993: 5) dikemukakan beberapa karakteristik kewirausahaan yang berhasil, di antaranya memiliki ciri-ciri:
(1)   Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas (assertive).
(2)   Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam pandangan dan bertindak (sees and acts) terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana, dan mengutamakan monitoring.
(3)   Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan bisnis.
Secara eksplisit, Dan Steinhoff dan John F Burgess (1993: 38) mengemukakan beberapa karakteristik yang diperlukan untuk menjadi wirausaha yang berhasil, meliputi:
(1)   Memiliki visi dan tujuan usaha yang jelas.
(2)   Bersedia menanggung risiko waktu dan uang.
(3)   Berencana, mengorganisir.
(4)   Kerja keras sesuai dengan tingkat kepentingannya.
(5)   Mengembangkan hubungan dengan pelanggan, pemasok, pekerja, dan yang lainnya.
(6)   Bertanggung jawab terhadap keberhasilan dan kegagalan.
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi juga oleh sifat dan kepribadian seseorang. The Officer of Advocacy of Small Business Administration (1989) yang dikutip oleh Dan Steinhoff dan John F Burgess (1993: 37) mengemukakan bahwa kewirausahaan yang berhasil pada umumnya memiliki sifat-sifat kepribadian (entrepre­neurial personality) sebagai berikut:
(1)   They have the self-confidence to work hard independently and understand that the risk taking is part of the equation for success
(2)   They have organization ability, can set goals, are results-oriented, and take responsibility for the results of their endeavors—good or bad.
(3)   They are creative and seek an outlet for their creativity in an entrepreneurship.
(4)   They enjoy challenges and find personal fulfilment in seeing their ideas through to comple­tion.

Dengan menggabungkan pandangan Timmons dan McDelland (1961),,Thomas F. Zimmerer (1996: 6-8) memperluas karakteristik sikap dan perilaku kewirausahaan yang berhasil sebagai berikut:
(1)          Commitment and determination, yaitu memiliki komitmen dan tekad yang bulat untuk mencurahkan semua perhatiannya pada usaha. Sikap yang setengah hati mengakibatkan besarnya kemungkinan untuk gagal dalam berwirausaha.
(2)          Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab baik dalam mengendalikan sumber daya yang digunakan maupun tanggung jawab terhadap keberhasilan berwirausaha. Oleh karena itu, akan mawas diri secara internal.
(3)          Opportunity obsession, yaitu selalu berambisi untuk selalu mencari peluang. Keberhasilan wirausaha selalu diukur dengan keberhasilan untuk mencapai tujuan. Pencapaian tujuan terjadi apabila ada peluang.
(4)          Tolerance for risk, ambiguity, and uncertainty, yaitu tahan terhadap risiko dan ketidak­pastian. Wirausaha harus belajar untuk mengelola risiko dengan cara mentransfer risiko ke pihak lain seperti bank, investor, konsumen, pemasok, dan lain-lain. Wirausaha yang berhasil biasanya memiliki toleransi terhadap pandangan yang berbeda dan ketidakpastian.
(5)          Self confidence, yaitu percaya diri. Ia cenderung optimis dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk berhasil.
(6)          Creativity and flexibility, yaitu berdaya cipta dan dan luwes. Salah satu kunci penting adalah kemampuan untuk menghadapi perubahan permintaan. Kekakuan dalam menghadapi perubahan ekonomi dunia yang serba cepat sering kali membawa kegagalan. Kemampuan untuk menanggapi perubahan yang cepat dan fleksibel tentu saja memerlukan kreativitas yang tinggi.
(7)          Desire for immediate feedback, yaitu selalu memerlukan umpan balik yang segera. Ia selalu ingin mengetahui hasil dari apa yang dikerjakannya. Oleh karena itu, dalam memperbaiki kinerjanya, ia selalu memiliki kemauan untuk menggunakan ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya dan selalu belajar dari kegagalan.
(8)          High level of energy, yaitu memiliki tingkat energi yang tinggi. Wirausaha yang berhasil biasanya memiliki daya juang yang lebih tinggi dibanding rata-rata orang lainnya, sehingga ia lebih suka kerja keras walaupun dalam waktu yang relatif lama.
(9)          Motivation to excel, yaitu memiliki dorongan untuk selalu unggul. Ia selalu ingin lebih unggul, lebih berhasil dalam mengerjakan apa yang dilakukannya dengan melebihi standar yang ada. Motivasi ini muncul dari dalam diri (internal) dan jarang dari eksternal.
(10)      Orientation to the future, yaitu berorientasi pada masa yang akan datang. Untuk tumbuh dan berkembang, ia selalu berpadangan jauh ke masa depan yang lebih baik.
(11)      Willingness to learn from failure, yaitu selalu belajar dari kegagalan. Wirausaha yang berhasil tidak pernah takut gagal. Ia selalu memfokuskan kemampuannya pada keberhasilan.
(12)           Leadership ability, yaitu kemampuan dalam kepemimpinan. Wirausaha yang berhasil memiliki kemampuan untuk menggunakan pengaruh tanpa kekuatan (power), ia harus lebih memiliki taktik mediator dan negotiator daripada diktator.

Menurut Ahmad Sanusi (1994) ada beberapa kecenderungan profil pribadi wirausaha yang dapat diangkat dari kegiatan sehari-hari, di antaranya:
(1)          Tidak menyenangi lagi hal-hal yang sudah terbiasa/tetap/sudah teratur/diatur dan jelas. Ia selalu bosan dengan kegiatan rutin sehingga timbul harapan-harapan dan keinginan untuk selalu berubah, ada tambahan, pengayaan, atau perbaikan mutu (nilai tambah yang berbeda).
(2)          Suka memandang ke luar, berorientasi pada aspek-aspek yang lebih luas dari soal yang dihadapi untuk memperoleh peluang baru.
(3)          Makin berani, karena merasa perlu untuk menunjukkan sikap kemandirian atau sikap prakarsa atas nama sendiri.
(4)          Suka berimajinasi dan mencoba menyatakan daya kreativitas serta memperkenalkan hasil-hasilnya kepada pihak lain.
(5)          Karena sendiri, maka ada keinginan berbeda atau maju, dan toleransi terhadap perbedaan pihak lain.
(6)          Menyatakan suatu prakarsa setelah gagasan awalnya diterima dan dikembangkan, serta dapat dipertanggungjawabkan dari beberapa sudut. prakarsa dianggap tidak final, bahkan terbuka untuk modifikasi dan perubahan.
(7)          Dengan kerja keras dan kemajuan tahap demi tahap yang tercapai timbul rasa percaya diri dan sikap optimisme yang lebih mendasar.
(8)          Sikap dan perilaku kewirausahaan di atas, dikombinasikan dengan keterampilan manajemen usaha dalam bentuk perencanaan dan pengembangan produk, penetrasi/pengembangan pasar, organisasi dan komunikasi perusahaan, keuangan, dan lain-lain.
(9)          Meskipun asasnya bekerjakeras, cermat dan sungguh-sungguh namun aspek risiko tidak bisa dilepaskan sampai batas yang dapat diterima.
(10)      Dengan risiko tersebut, dibulatkanlah tekad, komitmen, dan kekukuhan hati terhadap alternatif yang dipilih.
(11)      Berhubung yang dituju ada kemajuan yang terus-menerus, maka ruang lingkup memandang pun jauh dan berdaya juang tinggi, karena sukses tidak datang tanpa dasar atau tiba-tiba.
(12)      Adanya perluasan pasar dan pihak lain yang bersaing mendorong kemauan keras untuk membuat perencanaan lebih baik, bekerja lebih baik, untuk mencapai hasil lebih baik bahkan yang terbaik dan berbeda.
(13)      Sikap hati-hati dan cermat mendorong kesiapan bekerja sama dengan pihak lain yang sama-sama mencari kemajuan dan keuntungan. Akan tetapi, jika perlu, is harus ada kesiapan untuk bersaing.
(14)      Ujian, godaan, hambatan, dan hal-hal yang tidak terduga dianggap tantangan untuk mencari berbagai ikhtiar.
(15)      Memiliki toleransi terhadap kesalahan operasional atau penilaian. Ada introspeksi dan kesediaan, serta sikap responsif dan arif terhadap umpan balik, kritik, dan saran.
(16)      Punya kemampuan intensif dan seimbang dalam memperhatikan dan menyimak informasi dari pihak lain dengan meletakan posisi dan sikap sendiri, dan mengendalikan diri sendiri terhadap sesuatu soal yang dianggap belum jelas.
(17)      Menjaga dan memajukan nilai dan perilaku yang telah menjadi keyakinan dirinya, integritas pribadi yang mengandung citra dan harga diri, selalu bersikap adil, adil, dan sangat menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain.
Menurut Ahmad Sanusi, dalam konteks tersebut para wirausaha tidak memiliki profil yang sama, masing-masing orang memiliki profilnya sendiri.

2.4.2 Nilai-nilai Hakiki Kewirausahaan
Masing-masing karakteristik kewirausahaan tersebut di atas memiliki makna-makna dan perangai tersendiri yang disebut nilai. Milton Rockeach (1973: 4), membedakan konsep nilai menjadi dua, yaitu nilai sebagai "sesuatu yang dimiliki oleh seseorang "(person has a value), dan nilai sebagai "sesuatu yang berkaitan dengan objek" (an object has nilue). Pandangan pertama, manusia mempunyai nilai yaitu sesuatu yang dijadikan ukuran baku bagi persepsinya terhadap dunia luar. Menurut Sidharta Poespadibrata (1993: 91) watak seseorang merupakan sekumpulan perangai yang tetap. Sekumpulan perangai yang tetap itu dapat dipandang sebagai suatu sistem nilai (Rockeach, 1973). Oleh karena itu, watak dan perangai yang melekat pada kewirausahaan dan menjadi ciri-ciri kewirausahaan dapat dipandang sebagai sistem nilai kewirausahaan.
Nilai-nilai kewirausahaan di atas identik dengan sistem nilai yang melekat pada sistem nilai manajer. Seperti dikemukakan oleh Andreas A. Danandjaja (1986), Andreas Budihardjo (1991) dan Sidharta Poespadibrata (1993), dalam sistem nilai manajer ada dua kelompok nilai, yaitu: (1) Sistem nilai pribadi, (2) Sistem nilai kelompok atau organisasi. Dalam sistem nilai pribadi terdapat empat jenis sistem nilai, yaitu: (1) Nilai keprimer pragmatik, (2) Nilai primer moralistik, (3) Nilai primer afektif (4) Nilai bauran. Dalam sistem nilai primer pragmatik terkandung beberapa unsur di antaranya perencanaan, prestasi, produktivitas, kemampuan, kecakapan, kreativitas, kerja sama, kesempatan. Sedangkan dalam nilai moralistik terkandung unsur-unsur keyakinan, jaminan, martabat pribadi, kehormatan, dan ketaatan.
Dalam kewirausahaan, sistem nilai primer pragmatik tersebut dapat dilihat dari watak, jiwa dan perilakunya, misalnya selalu kelp keras, tegas, mengutamakan prestasi, keberanian mengambil risiko, produktivitas, kreativitas, inovatif, kualitas kerja, komitmen dan kemampuan mencari peluang. Selanjutnya, nilai moralistik meliputi keyakinan atau percaya diri, kehormatan, kepercayaan, kerja sama, kejujuran, keteladanan ,dan keutamaan.
Sujuti Jahya (1977) membagi nilai-nilai kewirausahaan tersebut ke dalam dua dimensi nilai yang berpasangan, yaitu:
(1)   Pasangan sistem nilai kewirausahaan yang berorientasi materi dan berorientasi non-materi.
(2)   Nilai-nilai yang berorientasi pada kemajuan dan nilai-nilai kebiasaan.
Ada empat nilai dengan orientasi dan ciri masing-masing, sebagai berikut:
(1)   Wirausaha yang berorientasi kemajuan untuk memperoleh materi, ciri-cirinya pengambil risiko, terbuka terhadap teknologi, dan mengutamakan materi.
(2)   Wirausaha yang berorientasi pada kemajuan tetapi bukan untuk mengejar materi. Wirausaha ini hanya ingin mewujudkan rasa tanggung jawab, pelayanan, sikap positif, dan kreativitas.
(3)   Wirausaha yang berorientasi pada materi, dengan berpatokan pada kebiasaan yang sudah ada, misalnya dalam perhitungan usaha dengan kira-kira, sering menghadap ke arah tertentu (aliran fengshui) supaya berhasil.
(4)   Wirausaha yang berorientasi pada non-materi, dengan bekerja berdasarkan kebiasaan, wirausaha model ini biasanya tergantung pada pengalaman, berhitung dengan menggunakan mistik, paham etnosentris, dan taat pada tata cara leluhur.
Penerapan masing-masing nilai sangat tergantung pada fokus dan tujuan masing-­masing wirausaha.
Dari beberapa ciri kewirausahaan di atas, ada beberapa nilai hakiki penting dari kewirausahaan, yaitu:

1. Percaya Diri (Self-confidence)
Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan (Soesarsono Wijandi, 1988: 33). Dalam praktik, sikap dan kepercayaan ini merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai, melakukan dan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab itu, kepercayaan diri memiliki nilai keyakinan, optimisme, individualitas, dan ketidaktergantungan. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri cenderung memiliki keyakinan akan kemampuannya untuk mencapai keberhasilan (Zimmerer, 1996: 7).
Kepercayaan diri ini bersifat internal, sangat relatif dan dinamis, dan banyak ditentukan oleh kemampuannya untuk memulai, melaksanakan, dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang yang percaya diri memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sistematis, berencana, efektif, dan efisien. Kepercayaan diri juga selalu oleh ketenangan, ketekunan, kegairahan, dan kemantapan dalam melakukan pekerjaan.
Keberanian yang tinggi dalam mengambil risiko dan perhitungan yang matang ikuti dengan optimisme harus disesuaikan dengan kepercayaan diri. Oleh sebab optimisme dan keberanian mengambil risiko dalam menghadapi suatu tantangan jauhi oleh kepercayaan diri. Kepercayaan diri juga ditentukan oleh kemandirian kemampuan sendiri. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, relatif Mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain.
Kepercayaan diri di atas, baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi mental seseorang. Gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja keras, kegairahan berkarya, dan sebagainya banyak dipengaruhi oleh tingkat kapercayaan diri seseorang yang berbaur dengan pengetahuan keterampilan dan kewaspadaannya (Soesarsono Wijandi, 1988:37). Kepercayaan diri merupakan landasan kekuatan untuk meningkatkan karsa dan karya seseorang. Sebaliknya setiap karya yang menghasilkan menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri. Kreativitas, inisiatif, kegairahan kerja dan ketekunan akan banyak mendorong seseorang untuk mencapai yang memberikan kepuasan batin, yang kemudian akan mempertebal kepercayaan Pada gilirannya orang yang memiliki kepercayaan diri akan memiliki kemampuan bekerja sendiri dalam mengorganisir, mengawasi, dan meraihnya (the ability of a man to organize a business himself and could run, control and embrace) (Soeparman ahamidjaja, 1997: 12). Kunci keberhasilan dalam bisnis adalah untuk memahami sendiri. Oleh sebab itu, wirausaha yang sukses adalah wirausaha yang mandiri dan daya diri (Yuyun Wirasasmita, 1994: 2).

2. Berorientasi Tugas dan Hasil
Seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil, adalah orang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik, dan berinisiatif. Berinisiatif artinya selalu ingin mencari dan memulai. Untuk memulai diperlukan niat dan tekad yang kuat, serta karsa yang besar. Sekali sukses atau berprestasi, maka sukses berikutnya akan menyusul, sehingga usahanya semakin maju dan semakin berkembang. Dalam kewirausahaan, peluang hanya diperoleh apabila ada inisiatif. Perilaku inisiatif im biasanya diperoleh melalui pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun, dan berkembangannya diperoleh dengan cara disiplin diri, berpikir kritis, tanggap, bergairah, dan semangat berprestasi.

3. Keberanian Mengambil Risiko
Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu nilai ke utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil risiko akan sukar risi memulai atau berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, "seorang wirausaha yang berani 1. menanggung risiko adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan memenangkan 2. dengan cara yang baik" (Yuyun Wirasasmita, 1994: 2). Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Oleh sebab itu, wirausaha kurang menyukai risiko yang terlalu rendah atau yang terlalu tinggi. Risiko yang terlalu rendah akan memperoleh sukses yang relatif rendah. Sebaliknya, risiko yang tinggi kemungkinan memperoleh sukses yang tinggi, tetapi dengan kegagalan yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, ia akan lebih menyukai risiko yang seimbang (moderat). Dengan demikian, keberanian untuk menanggung risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis. Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistis. situasi risiko kecil dan situasi risiko tinggi dihindari karena sumber kepuasan tidak mungkin didapat pada masing-masing situasi tersebut. Artinya, wirausaha menyukai tantangan yang sukar namun dapat dicapai (Geoffrey G Meredith, 1996: 37). Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan, dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil. Dalam situasi risiko dan ketidakpastian inilah, wirausaha mengambil keputusan yang mengandung potensi kegagalan atau keberhasilan. Pada situasi ini, menurut Meredith (1996:38), ada dua alternatif atau lebih yang harus dipilih, yaitu alternatif yang mengandung risiko dan alternatif yang konservatif. Pilihan terhadap risiko ini sangat tergantung pada:
(a)    Daya tarik setiap alternatif.
(b)   Kesediaan untuk rugi.
(c)    Kemungkinan relatif untuk sukses atau gagal.
Untuk bisa memilih, sangat ditentukan oleh kemampuan wirausaha untuk mengambil risiko. Selanjutnya, kemampuan untuk mengambil risiko ditentukan oleh:
(a)    Keyakinan pada diri sendiri.
(b)   Kesediaan untuk menggunakan kemampuan dalam mencari peluang dan kemungkinan untuk memperoleh keuntungan.
(c)    Kemampuan untuk menilai situasi risiko secara realistis.
Di atas dikemukakan bahwa pengambilan risiko berkaitan dengan kepercayaan diri sendiri. Artinya, semakin besar kayakinan seseorang pada kemampuan sendiri, maka semakin besar keyakinan orang tersebut akan kesanggupan untuk mempengaruhi hasil dan keputusan, dan semakin besar pula kesediaan seseorang untuk mencoba apa yang menurut orang lain sebagai risiko (Meredith, 1996: 39). Jadi, pengambil risiko lebih menyukai tantangan dan peluang. Oleh sebab itu, pengambil risiko ditemukan pada orang-orang yang inovatif dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari perilaku kewirausahaan.

4. Kepemimpinan
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan, keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dulu, lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas dan inovasi, ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang dihasilkannya dengan lebih cepat, lebih dulu dan segera berada di pasar. Ia selalu menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga ia menjadi pelopor baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Ia selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai. Karena itu, perbedaan bagi seseorang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan sumber pembaharuan untuk menciptakan nilai. la selalu ingin bergaul untuk mencari peluang, terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian dijadikan peluang. Dalam karya dan karsanya, wirausaha selalu ingin tampil baru dan berbeda. Karya dan karsa yang berbeda akan dipandang sebagai sesuatu yang baru dan dijadikan peluang. Banyak hasil karya wirausaha berbeda dan dipandang baru, seperti komputer, mobil, minuman, dan produk makanan lainnya. Contoh sederhana adalah Toyota yang hampir setahun sekali menghasilkan produk mobil baru. Disebut produk mobil kijang baru karena penampilannya, interiomya, bentuk, dan asesorisnya berbeda dengan yang sudah ada. Karena berbeda, maka disebut baru. Akibatnya, nilai jual kijang baru lebih mahal daripada kijang lama. Inilah nilai tambah yang diciptakan oleh wirausaha yang memiliki kepeloporan.

5. Berorientasi ke Masa Depart
Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa. depan. Karena memiliki pandangan yang jauh ke masa depan, maka ia selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang sudah ada sekarang. Meskipun dengan risiko yang mungkin terjadi, ia tetap tabah untuk mencari peluang dan tantangan demi pembaharuan masa. depan. pandangan yang jauh ke depan, membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada sekarang. Oleh sebab itu, ia selalu mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.
6.  Keorisinilan: Kreativitas dan Inovasi
Nilai inovatif, kreatif dan fleksibel merupakan unsur-unsur keorisinilan seseorang. Wirausaha yang inovatif adalah orang yang kreatif dan yakin dengan adanya cara-cara baru yang lebih baik (Yuyun Wirasasmita, 1994: 7). Ciri-cirinya, adalah:
(a)    Tidak pernah puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini, meskipun cara tersebut cukup baik.
(b)   Selalu menuangkan imajinasi dalam pekerjaannya.
(c)    Selalu ingin tampil berbeda atau selalu memanfaatkan perbedaan.
Hardvard's Theodore Levitt mengemukakan definisi inovasi dan kreativitas lebih Ki mengarah pada konsep berpikir dan bertindak yang baru (think new and doing new). k, Kreativitas adalah ability to develop new ideas and to discover mew ways of looking at problem and opportunities". Sedangkan, "Innovation is ability to apply creative solutions to those problems and opportunities to enhance or to enrich people's live". Menurut Levitt, kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru (thinking new things) dan inovasi adalah melakukan sesuatu b yang baru (doing new things). Oleh karena itu, menurut Levitt, kewirausahaan adalah "thinking and doing new things or old thinks in new ways." Kewirausahaan adalah berpikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berpikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Hal ini sejalan dengan pendapat Soeparman Soemahamidjaja (1997: 10) bahwa "kewirausahaan" adalah "ability to create the new and different".
Zimmerer (1996:51), dalam bukunya "Entrepreneurship and The New Venture Forma­tion, mengungkapkan bahwa:
"Sometimes creativity involves generating something from nothing. However, creativity is more likely to result in collaborating on the present, in putting old things together in new ways, or in taking something away to create something simpler or better".

Dari definisi di atas, kreativitas mengandung pengertian, yaitu:
(1)   Kreativitas adalah menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
(2)   Hasil kerja sama masa kini untuk memperbaiki masa lalu dengan cara yang baru.
(3)   Menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih baik.
Menurut Zimmerer, "creativity ideas often arise when entrepreneurs look at something old and think something new or different". Ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berpikir sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu, kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada (generating some­thing from nothing).
Rahasia kewirausahaan dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan meraih peluang yang dihadapi setiap hari (applying creativity and innovation to solve the problems and to and exploit opportunities that people face everyday). Berinisiatif ialah mengerjakan sesuatu tanpa menunggu perintah. Kebiasaan berinisiatif akan melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah dibiasakan berulang-ulang dan melahirkan inovasi. Gerschenkron adalah seorang ahli yang menonjolkan inovasi sebagai sarana kepribadian menuju kewirausahaan modern. la mengemukakan "... entrepreneur are people whose task is to make economic deci­sions" (Myron Weiner, 1966: 256-272). Wirausaha adalah orang yang bertugas memecahkan keputusan-keputusan ekonomi. Pokok-pokok pikiran Gerschenkron di atas, pada dasarnya sejalan dengan pokok‑ pokok pikiran Everett E. Hagen (1962: 88) yang mengemukakan tentang ciri-ciri innovational personality yang kreatif sebagai berikut:
(1)   Openness to experience, yaitu terbuka terhadap pengalaman. la selalu berminat dan tanggap terhadap gejala di sekitar kehidupannya dan radar bahwa di dalamnya
terdapat individu yang berperilaku sistematis.
(2)   Creative imagination, yaitu kreatif dalam berimajinasi. Wirausaha memiliki kemam­puan untuk bekerja dengan penuh imajinasi.
(3)   Confidence and content in one's own evaluation, yaitu cakap dan memiliki keyakinan atas penilaian dirinya dan teguh pendirian.
(4)   Satisfaction in facing and attacking problems and in resolving confusion or inconsistency, yaitu selalu memiliki kepuasan dalam menghadapi dan memecahkan persoalan.
(5)   Has a duty or responsibility to achieve, yaitu memiliki tugas dan rasa tanggung jawab untuk berprdstasi.
(6)   Inteligence and energetic, yaitu dan memiliki kecerdasan dan energik.

4.3 Berpikir Kreatif dalam Kewirausahaan
Hasil penelitian terhadap otak manusia, menunjukkan bahwa fungsi otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu fungsi otak sebelah kiri dan otak sebelah kanan. Setiap bagian tidak memiliki fungsi spesifik dan menangkap informasi yang berbeda. Fungsi bagian acak yang satu lebih dominan daripada bagian yang lain. Fungsi otak sebelah kiri dikendalikan secara linear (berpikir vertikal), sedangkan otak sebelah kanan lebih mengandalkan pada berpikir lateral. Otak sebelah kiri berperan menangkap logika dan simbol-simbol sedangkan sebelah kanan lebih menangkap hal yang bersifat intuitif dan emosional. Otak sebelah kanan menggerakan berpikiran lateral dan meletakkannya pada jiwa proses kreatif. Menurut Zimmerer (1996), untuk mengembangkan keterampilan berpikir, seseorang menggunakan otak sebelah kiri. sedangkan untuk belajar mengembangkan keterampilan kreatif digunakan otak sebelah kanan, ciri-cirinya:
(1)   Selalu bertanya, "Apa ada cara yang lebih baik?"
(2)   Selalu menantang kebiasaan, tradisi, dan kebiasaan rutin.
(3)   Berefleksi/merenungkan, berpikir dalam.
(4)   Berani bermain mental, mencoba untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda. Menyadari kemungkinan banyak jawaban daripada satu jawaban yang benar. Melihat kegagalan dan kesalahan hanya sebagai jalan untuk mencapai sukses.
(5)   Mengkorelasikan ide-ide yang masih samar terhadap masalah untuk menghasilkan pemecahan inovatif.
(6)   Memiliki keterampilan helikopter (helicopters skills), yaitu kemampuan untuk bangkit di atas kebiasaan rutin dan melihat permasalahan dari perspektif yang lebih luas kemudian memfokuskannya pada kebutuhan untuk berubah.
Dengan menggunakan otak sebelah kiri, menurut Zimmerer (1996: 76), ada tujuh langkah proses kreatif:

Tahap 1: Persiapan (Preparation). Persiapan menyangkut kesiapan kita untuk berpikir kreatif yang dilakukan dalam bentuk pendidikan formal, pengalaman, magang, dan pengalaman belajar lainnya. Pelatihan merupakan landasan untuk menumbuhkan kreativitas dan inovasi. Bagaimana kita dapat memperbaiki pikiran kita agar berpikir kreatif? Zimmerer mengemukakan tujuh langkah untuk memperbaiki pikiran kita untuk berpikir kreatif, yaitu:
(1)   Hindari sikap untuk tidak belajar. Setiap situasi merupakan peluang untuk belajar
(2)   Belajar banyak. Jangan belajar terbatas pada satu keahlian yang kita miliki saja, karena banyak inovasi yang diperoleh dari bidang ilmu lain.
(3)   Diskusikan ide-ide kita dengan orang lain.
(4)   Himpun artikel-artikel yang penting.
(5)   Temui profesional atau asosiasi dagang, dan pelajari cara mereka memecahkan persoalan.
(6)   Gunakan waktu untuk belajar sesuatu dari orang lain.
(7)   Kembangkan keterampilan menyimak gagasan orang lain

Tahap 2: penyelidikan (Investigation). Dalam penyelidikan diperlukan individu yang dapat mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang masalah atau keputusan. seseorang dapat mengembangkan pemahaman tentang masalah atau keputusan melalui penyelidikan. Untuk menciptakan konsep dan ide-ide baru tentang suatu bidang tertentu,seseorang pertama-tama harus mempelajari masalah dan memahami komponen­-komponen dasarnya. Misalnya, seseorang pedagang tidak bisa menghasilkan ide-ide baru kalau ia tidak mengetahui konsep-konsep atau komponen-komponen dasar tentang perdagangan.

Tahap 3: Transformasi (Transformation), yaitu menyangkut persamaan dan perbedaan pandangan di antara informasi yang terkumpul (involves viewing the similarities and the differences among the information collected). Transformasi, ialah mengidentifikasi persamaan­persamaan dan perbedaan-perbedaan yang ada tentang informasi yang terkumpul. Dalam tahap ini diperlukan dua tipe berpikir, yaitu berpikir konvergen dan divergen. Berpikir konvergen (convergent thinking) adalah kemampuan untuk melihat persamaan dan hubungan di antara data dan kejadian yang bermacam-macam. Sedangkan berpikir divergen (divergent thinking), adalah kemampuan untuk melihat perbedaan-perbedaan antara data dan kejadian-kejadian yang beranekaragam.

Ada beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan mentransformasi informasi ke dalam ide-ide, yaitu yang dapat dilakukan sebagai berikut:
(1)      Evaluasi bagian-bagian situasi beberapa saat, cobalah ambil gambaran luasnya.
(2)      Susun kembali unsur-unsur situasi itu. Di samping melihat komponen-komponen masalah/isu dalam susunan dan perspektif yang berbeda-beda, kita harus mampu melihat perbedaan dan persamaan secara cermat.
(3)      Sebelum melihat satu pendekatan khusus terhadap situasi tertentu, ingat bahwa dengan beberapa pendekatan mungkin keberhasilan akan dicapai.
(4)      Lawan godaan yang membuat penilaian kita-tergesa-gesa dalam memecahkan persoalan atau mencari peluang.

Tahap 4: Penetasan (Incubation), yaitu menyiapkan pikiian bawah sadar untuk merenungkan informasi yang terkumpul (allows the subconcious mind to reflect on the information collected). Pikiran bawah sadar memerlukan waktu untuk merefleksikan informasi.
Untuk mempertinggi tahap inkubasi dalam proses berpikir kreatif dapat dilakukan dengan cara:
(1)      Menjauhkan diri dari situasi. Melakukan sesuatu yang tidak terkait dengan masalah atau peluang secara keseluruhan sehingga kita dapat berpikir di bawah sadar.
(2)      Sediakan waktu untuk mengkhayal. Meskipun mengkhayal seolah-olah melakukan sesuatu yang tidak berguna, akan tetapi khayalan merupakan bagian terpenting dari proses kreatif.
(3)      Santai dan bermain secara teratur. Anda dapat berpikir kreatif dengan ide-ide besar pada waktu bermain atau santai. Ide-ide besar Bering muncul pada waktu bermain golf, mendengarkan musik, di kebun/taman, atau di tempat tidur.
(4)      Berkhayal tentang masalah atau peluang. Berpikir berbagai masalah sebelum tidur merupakan cara efektif untuk mendorong pikiran Anda bekerja waktu tidur.
(5)      Kejarlah masalah atau peluang meskipun dalam lingkungan yang berbeda di mana saja.

Tahap 5: Penerangan (Illumination). Penerangan akan muncul pada tahap inkubasi, vaitu ketika ada pemecahan spontan yang menyebabkan adanya titik terang (occurs at - -ww point during the incubation stage when a spontaneous breakthrough causes "the light bulb to _fir on "). Pada tahap ini, semua tahap sebelumnya muncul bersama-sama menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif.

Tahap 6: Pengujian (Verification). Menyangkut validasi keakuratan dan manfaat ide-ide yang muncul (involves validating the idea as accurate and useful) yang dapat dilakukan pada masa percobaan, proses simulasi, tes pemasaran, membangun pilot project, membangun prototipe, dan aktivitas lain yang dirancang untuk membuktikan ide-ide baru yang akan diimplementasikan.

Tahap 7: Implementasi (Implementation). Mentransformasikan ide-ide ke dalam praktik bisnis (involves transforming the idea into a business reality).
Roger Von Oech dalam bukunya "Whack on the side of the Head", mengidentifikasi sepuluh kunci mental dari kreativitas ("mental lock" of creativity) atau hambatan-hambatan kreativitas, yang meliputi:
(1)   Searching for the one "right" answer, yaitu berusaha untuk menemukan hanya satu jawaban yang benar atau satu solusi yang benar dalam memecahkan suatu masalah. la tidak terbiasa dengan beberapa jawaban atau pandangan yang berbeda.
(2)   Focusing on "being logical", yaitu terfokus pada berpikir secara logika, tidak bebas berpikir secara non-logika dengan imajinasi dan berpikir kreatif. Padahal dalam berkreasi (intuisi dari Von Oech) kita dapat berpikir bebas tentang segala sesuatu yang berbeda dan bebas pula berpikir secara non-logika khususnya dalam fase berpikir kreatif (to thing something different and to freely use nonlogical thinking, espe­cially in the imaginative phase of the creative process).
(3)   Blindy following the rules, yaitu berlindung pada aturan yang berlaku (kaku). Kreativitas sangat tergantung pada kemampuan yang tidak kaku pada aturan, sehingga dapat melihat cara-cara baru untuk mengerjakan sesuatu (new ways of doing things).
(4)   Constantly being practical, yaitu terikat pada kehidupan praktis semata yang membatasi ide-ide kreatif.
(5)   Viewing playas frivolous. Memandang bermain sebagai sesuatu yang tidak menentu. Padahal, anak-anak dapat belajar dari bermain, yaitu dengan cara menciptakan cara-cara baru dalam memandang sesuatu yang lama dan belajar tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan (create new ways of looking at old things and learn what works-and what doesn't). Wirausaha bisa belajar dengan mencoba pendekatan dan penemuan baru. Kreativitas dapat diciptakan apabila wirausaha mau belajar dari bermain. Seseorang yang memandang permainan sebagai hal yang sia-sia cenderung membatasi berpikir kreatif.
(6)   Becoming everly specialized, yaitu terlalu spesialisasi. Spesialisasi membatasi kemampuan untuk melihat masalah lain. Sedangkan orang yang berpikir kreatif cenderung bersifat eksploratif dan selalu mencari ide-ide di luar bidang spesialisasi.
(7)   Avoiding ambiguity. Menghindari ambiguitas merupakan hambatan untuk berpikir kreatif. Padahal kemenduaan/ambiguitas (ambiguity) bisa menjadi kekuatan yang mendorong kreativitas, dan mendorong untuk berpikir sesuatu yang berbeda (tc think something different). Karena itu, menghindari ambiguitas merupakan hambatan berpikir kreatif.
(8)   Fearing looking foolish. Orang kadang-kadang tidak mau melakukan hal baru atau berpikir berbeda dari orang lain karena khawatir dianggap bodoh. Takut terlihat), dianggap bodoh merupakan salah satu penghalang kreativitas.
(9)   Fearing mistakes and failure (takut salah dan gagal). Orang kreatif menyadari bahwa mencoba sesuatu yang baru pasti membawa kegagalan. Namun demikian, mereka melihat kegagalan bukanlah suatu akhir dari segala sesuatu, tetapi merupakan pengalaman belajar untuk meraih sukses. Thomas Edison misalnya, sebelum meraih sukses untuk membuat bola lampu menyala, telah melakukan eksperimen sebanyak 1.800 cara. Seperti halnya Thomas Edison, wirausaha dapat belajar dari kegagalan. Belajar dari kegagalan merupakan bagian terpenting dari proses berpikir kreatif. Kuncinya, adalah kegagalan untuk meraih sukses. Oleh karena itu, takut terhadap kegagalan merupakan hambatan untuk berpikir kreatif.
(10)      Believing that "I'm not creative". Setiap orang berpotensi untuk kreatif. Takut pada ketidakmampuan untuk berbuat kreatif merupakan hambatan berpikir kreatif.
Untuk memotivasi para karyawan agar memiliki kreativitas, Zimmerer (1996: 76) mengemukakan beberapa cara:
(1)   Expecting creativity. Wirausaha mengharapkan kreativitas. Salah satu cara yang terbaik untuk mendorong kreativitas adalah memberi kewenangan kepada karyawan untuk berkreasi.
(2)   Expecting and tolerating failure, yaitu memperkirakan dan menoleransi kegagalan. Ide-ide kreatif akan menghasilkan keberhasilan atau kegagalan. Orang yang tidak pernah menemui kegagalan bukan orang kreatif.
(3)   Encouraging curiosity. Berbesar hati jika menemukan kegagalan, artinya kegagalan jangan dipandang sebagai sesuatu yang aneh.
(4)   Viewing problems as challenges, yaitu memandang kegagalan sebagai tantangan. Setiap kegagalan memberikan peluang untuk berinovasi.
(5)   Providing creativity training, yaitu menyediakan pelatihan berkreativitas. Setiap seorang memiliki kapasitas kreatif. Untuk mengembangkannya diperlukan pe­latihan. Pelatihan melalui buku, seminar, workshop, dan pertemuan profesional dapat mendorong karyawan untuk untuk meningkatkan kapasitas kreativitasnya.
(6)   Providing support, yaitu memberikan dorongan dan bantuan, berupa alat dan sumber daya yang diperlukan untuk berkreasi, terutama waktu yang cukup untuk berkreasi.
(7)   Rewarding creativity, yaitu menghargai orang yang kreatif. Penghargaan bisa dalam bentuk uang, promosi, dan hadiah lainnya.
(8)   Modeling creativity, yaitu memberi contoh kreatif. Untuk mendorong karyawan lebih kreatif, harus diciptakan lingkungan yang mendorong kreativitas.
Dalam menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan ekonomi global, menurut Zimmerer (1996: 53), kreativitas tidak hanya penting untuk menciptakan keunggulan kompetitif, akan tetapi juga sangat penting bagi kelangsungan perusahaan .zurvive). Artinya, dalam menghadapi tantangan global, diperlukan sumber daya manusia kreatif dan inovatif atau berjiwa kewirausahaan. Wirausahalah yang bisa menciptakan nilai tambah dan keunggulan. Nilai tambah tersebut diciptakan melalui kreativitas dan inovasi, atau "thinking new thing and doing new thing or create the new and different."
Zimmerer mengemukakan beberapa kaidah atau kebiasaan kewirausahaan "entre­preneur "rules to live by" yaitu:
(1)            Create, innovate, and activate, yaitu ciptakan, temukan, dan aktifkan. Wirausaha selalu memimpikan ide-ide baru, dan selalu bertanya "apa mungkin" atau "mengapa tidak" dan menggunakan inovasinya dalam kegiatan praktis.
(2)            Always be on the look out for new opportunities, yaitu selalu mencari peluang baru. Wirausaha harus selalu mencari peluang baru atau menemukan cara baru untuk menciptakan peluang.
(3)            Keep it simple, yaitu berpikir sederhana. Wirausaha selalu mengharapkan umpan balik sesegera mungkin, dan berusaha dengan cara yang tidak rumit.
(4)            Try it, fix it, do it, yaitu selalu mencoba, memperbaiki, dan melakukannya. Wirausaha berorientasi pada tindakan. Bila ada ide, wirausaha akan segera mengerjakannya.
(5)            Shoot for the top, yaitu selalu mengejar yang terbaik, terunggul dan ingin cepat mencapai sasaran. Wirausaha tidak pernah segan, mereka selalu bermimpi besar. Meskipun tidak selalu benar, mimpi besar adalah sumber penting untuk inovasi dan visi.
(6)            Don't be ashamed to start small, yaitu jangan malu untuk memulai dari hal-hal yang kecil. Banyak perusahaan besar yang berhasil karena dimulai dari usaha kecil.
(7)            Don't fear failure: learn form it, yaitu jangan takut gagal, belajarlah dari kegagalan. Wirausaha harus tahu bahwa inovasi yang terbesar berasal dari kegagalan.
(8)            Never give up, yaitu tidak pernah menyerah atau berhenti karena wirausaha bukan orang yang mudah menyerah.
(9)            Go for it, yaitu untuk terns mengejar apa yang diinginkan. Orang yang pantang menyerah selalu mengejar apa yang belum dicapainya. Sebelum tujuannya tercapai, maka ia akan mengejarnya.

5 Sikap Dan Kepribadian Wirausaha
Alex Inkeles dan David H. Smith (1974: 19-24) adalah salah satu di antara ahli yang mengemukakan tentang kualitas dan sikap orang modern. Menurut Inkeles (1974: 24) kualitas manusia modern tercermin pada orang yang berpartisipasi dalam produksi modern yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai, dan tingkah laku dalam kehidupan sosial. Ciri-cirinya meliputi keterbukaan terhadap pengalaman baru, selalu membaca perubahan sosial, lebih realistic terhadap fakta dan pendapat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang bukan pada masa lalu, berencana, percaya diri, memiliki aspirasi, berpendidikan dan mempunyai keahlian, respek, hati-hati, dan memahami produksi.
Ciri-ciri orang modern tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Gunar Myrdal, yaitu:
(1)   Kesiapan diri dan keterbukaan terhadap inovasi.
(2)   Kebebasan yang besar dari tokoh-tokoh tradisional.
(3)   Mempunyai jangkauan dan pandangan yang luas terhadap berbagai masalah.
(4)   Berorientasi pada masa sekarang dan yang akan datang.
(5)   Selalu berencana dalam segala kegiatan.
(6)   Mempunyai keyakinan pada kegunaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(7)   Percaya bahwa kehidupan tidak dikuasai oleh nasib dan orang tertentu.
(8)   Memiliki keyakinan dan menggunakan keadilan sesuai dengan prinsip masing­-masing.
(9)   Sadar dan menghormati orang lain (Siagian, 1972).
Menurut Harsojo (1978:5), modernisasi sebagai sikap yang menggambarkan:
(1)   Sikap terbuka bagi pembaharuan dan perubahan.
(2)   Kesanggupan membentuk pendapat secara demokratis.
(3)   Berorientasi pada masa kini dan masa depan.
(4)   Meyakini kemampuan sendiri.
(5)   Meyakini kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(6)   Menganggap bahwa ganjaran itu hasil dari prestasi.
Orang yang terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru akan lebih siap untuk menanggapi segala peluang, tantangan dan perubahan sosial, misalnya dalam mengubah standar hidupnya. Orang-orang yang terbuka terhadap ide-ide baru ini merupakan wirausaha yang inovatif dan kreatif yang ditemukan dalam jiwa kewirausahaan. Menurut Yurgen Kocka (1975), "Pandangan yang luas dan dinamis serta kesediaan untuk pembaharuan, bisa lebih cepat berkembang dalam lapangan industri, tidak lepas dari suatu latar belakang pendidikan, pengalaman perjalanan yang banyak" (Yuyun Wirasasmita, 1982:44). Dalam konteks ini, juga dijumpai perpaduan yang nyata antara usaha perdagangan yang sistematis dan rasional dengan kemampuan bereaksi terhadap kesempatan-kesempatan yang didasari keberanian berusaha. Wirausaha adalah kepribadian unggul yang mencerminkan budi yang luhur dan suatu sifat yang pantas diteladani, karena atas dasar kemampuannya sendiri dapat melahirkan suatu sumbangsih dan karya untuk kemajuan kemanusiaan yang berlandaskan kebenaran dan kebaikan.
Seperti telah diungkapkan bahwa wirausaha sebenarnya adalah seorang inovator atau individu yang mempunyai kemampuan naluriah untuk melihat benda-benda materi sedemikian rupa yang kemudian terbukti benar, mempunyai semangat dan kemampuan serta pikiran untuk menaklukkan cara berpikir yang tidak berubah, dan mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap oposisi sosial (Heijrachman Ranupandoyo,1982: 1). Wirausaha berperan dalam mencari kombinasi-kombinasi baru yang merupakan gabungan dari lima proses inovasi yaitu menemukan pasar-pasar baru, pengenalan barang-barang baru, metode produksi baru, sumber-sumber penyediaan bahan-bahan mentah baru, serta organisasi industri baru. Wirausaha merupakan inovator yang dapat menggunakan kemampuan untuk mencari kreasi-kreasi baru.
Dalam perusahaan, wirausaha adalah seorang inisiator atau organisator penting suatu perusahaan. Menurut Dusselman (1989: 16), seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan ditandai oleh pola-pola tingkah laku sebagai berikut:
(1)   Inovasi, yaitu usaha untuk menciptakan, menemukan dan menerima ide-ide baru.
(2)   Keberanian untuk menghadapi risiko, yaitu usaha untuk menimbang dan menerima risiko dalam pengambilan keputusan dan dalam menghadapi ketidakpastian.
(3)   Kemampuan manajerial, yaitu usaha-usaha yang dilakukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, meliputi:
(a)    Usaha perencanaan.
(b)   Usaha untuk mengkoordinir.
(c)    Usaha untuk menjaga kelancaran usaha.
(d)   Usaha untuk mengawasi dan mengevaluasi usaha.
(4)   Kepemimpinan, yaitu usaha memotivasi, melaksanakan, dan mengarahkan tujuan usaha.
Menurut Kathleen L. Hawkins & Peter A.Turla (1986) pola tingkah laku kewirausahaan di atas tergambar pula dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut:
(1)   Kepribadian, aspek ini bisa diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, kepercayaan diri, keberanian menghadapi risiko, memiliki dorongan, dan kemauan kuat.
(2)   Hubungan, dapat dilihat dari indikator komunikasi dan hubungan antar-personal, ke kepemimpinan, dan manajemen.
(3)   Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menemukan produk dan harga, periklanan dan promosi.
(4)   Keahlian dalam mengatur, diwujudkan dalam bentuk penentuan tujuan, perencanaan, dan penjadwalan, serta pengaturan pribadi.
(5)   Keuangan, indikatornya adalah sikap terhadap uang dan cara mengatur uang.
David McDelland (1961: 205) mengemukakan enam ciri perilaku kewirausahaan, yaitu :
(1)         Keterampilan mengambil keputusan dan mengambil risiko yang modest, dan bukan atas dasar kebetulan belaka.
(2)         Energik, khususnya dalam bentuk berbagai kegiatan inovatif.
(3)         Tanggung jawab individual.
(4)         Mengetahui hasil-hasil dari berbagai keputusan yang diambilnya, dengan tolok ukur satuan uang sebagai indikator keberhasilan.
(5)         Mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan di masa datang.
(6)         Memiliki kemampuan berorganisasi, meliputi kemampuan, kepemimpinan, dan manajerial.
Telah dikemukakan di atas bahwa wirausaha adalah inovator dalam mengom­binasikan sumber-sumber bahan baru, teknologi baru, metode produksi baru, akses pasar baru, dan pangsa pasar baru (Schumpeter, 1934). Oleh Ibnu Soedjono (1993) perilaku kreatif dan inovatif tersebut dinamakan "entrepreneurial action", yang ciri-cirinya: (1) Selalu mengamankan investasi terhadap risiko, (2) Mandiri, (3) Berkreasi menciptakan nilai tambah, (4) Selalu mencari peluang, (5) Berorientasi ke masa depan.
Perilaku tersebut dipengaruhi oleh nilai-nilai kepribadian wirausaha, yaitu nilai-­nilai keberanian menghadapi risiko, sikap positif, dan optimis, keberanian mandiri, dan memimpin, dan kemauan belajar dari pengalaman.
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik eksternal maupun internal. Menurut Sujuti Jahja (1977), faktor internal yang berpengaruh adalah kemauan, kemampuan, dan kelemahan. Sedangkan faktor yang berasal dari ekstenal diri perlaku adalah kesempatan atau peluang.

6 Motif Berprestasi Kewirausahaan
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya suatu motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Motif berprestasi ialah suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna kepuasan secara pribadi (Gede Anggan Suhandana, 1980: 55). Faktor dasarnya adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi.
Teori motivasi pertama kali dikemukakan oleh Maslow (1934). la mengemukakan hierarki kebutuhan yang mendasari motivasi. Menurutnya, kebutuhan itu bertingkat sesuai dengan tingkatan pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik (physiological needs), kebutuhan dan keamanan (security needs), kebutuhan social (social needs), kebutuhan harga diri (esneeds), dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualization needs).
Teori Maslow, kemudian oleh Dayton Alderfer dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yang dikenal dengan teori existence, relatedness, and growth (ERG).
Pertama, kebutuhan akan eksistensi (existence) yaitu menyangkut keperluan mate­rial yang harus ada (termasuk physiological need and security need dari Maslow).
Kedua, ketergantungan (relatedness), yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hubungan interpersonal (termasuk social and esteem need dari Maslow).
Ketiga, kebutuhan perkembangan (growth), yaitu kebutuhan intrinsik untuk perkembangan personal (termasuk self-actualization dan esteem need dari Maslow).
David C. McDelland (1971) mengelompokkan kebutuhan (needs), menjadi tiga, yakni:
(1)         Need for achievement (n'Ach): The drive to excel, to achieve in relation to a set of standard, to strive to succeed.
(2)         Need for power (n'Pow): The need to make other behave in a way that they would not have behaved otherwise.
(3)         Need for affiliation (n'Aff): The desire for friendly and dose interpersonal relationships.
Kebutuhan berprestasi wirausaha (n'Ach) terlihat dalam bentuk tindakan untuk n melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibanding sebelumnya. Wirausaha ke yang memiliki motif berprestasi tinggi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(1)         Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
(2)         Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan kegagalan.
(3)         Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
(4)         Berani menghadapi risiko dengan penuh perhitungan.
(5)         Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang (fifty-fifty). Jika tugas yang diembannya sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian keberhasilan sangat rendah.
Kebutuhan akan kekuasaan (n'Pow), yaitu hasrat untuk mempengaruhi, mengendalikan, dan menguasai orang lain. Ciri umumnya adalah senang bersaing, berorientasi pada status, dan cenderung lebih berorientasi pada status dan ingin mempengaruhi orang lain.
Kebutuhan untuk berafiliasi (Waff), yaitu hasrat untuk diterima dan disukai oleh orang lain. Wirausaha yang memiliki motivasi berafiliasi tinggi lebih menyukai persahabatan, bekerja sama dari pada persaingan, dan saling pengertian. Menurut Stephen P. Robbins (1993: 214), kebutuhan yang kedua dan ketigalah yang erat kaitannya dengan keberhasilan manajer saat ini.
Ahli psikologi lain, Frederick Herzberg (1987) dalam teori motivation-hygiene mengemukakan bahwa hubungan dan sikap individu terhadap pekerjaannya merupakan salah satu dasar yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang. Ada dua faktor dasar motivasi yang menentukan keberhasilan kerja, yaitu faktor yang membuat orang merasa puas (satisfaction) dan faktor yang membuat orang tidak merasa puas (dis­satisfaction). Faktor internal yang membuat orang memperoleh kepuasan kerja (job-satis­faction) meliputi prestasi (achievement), pengakuan ( recognition), pekerjaan (the work itself), tanggung jawab (responsibility), kemajuan (advancement), dan kemungkinan berkembang (possibility of growth). Sedangkan faktor yang menentukan ketidakpuasan (dissatisfaction) adalah upah, keamanan kerja, kondisi kerja, status, prosedur perusahaan, mutu pengendalian teknis, mutu hubungan interpersonal (Gibson, 1990: 95).
Ahli lain yang membahas motivasi adalah Victor Vroom (1964) dalam teorinya yang disebut teori harapan (expectancy theory). Ia mengernukakan bahwa "The strength of a tendency to act in a certain way depend on the strength of an expectation that an act will be followed by a given outcome and other attractiveness of that outcome to the individual". Kecenderungan yang kuat untuk bertindak dalam suatu arch tertentu tergantung pada kekuatan harapan yang akan dihasilkan dari tindakannya dan ketertarikan lain yang dihasilkan bagi seseorang. Menurut Victor Vroom, ada tiga variabel yang saling berhubungan, yaitu: (1) Attractiveness, merupakan imbalan yang diperoleh dari pekerjaan, (2) Performance-reward linkage, yaitu hubungan antara imbalan yang diperoleh dan kinerja, dan (3) Effort performance linkage, yaitu hubungan antara usaha dan kinerja yang dihasilkan. Ada tiga prinsip dari teori harapan (expectancy theory), yaitu:
(1)         Prestasi atau performance (P) adalah fungsi perkalian antara motivasi (M) dan ability (A).
(2)         Motivasi merupakan fungsi perkalian dari valensi tingkat pertama (V1) dengan expectancy (E).
(3)         Valensi tingkat pertama merupakan fungsi perkalian antara jumlah valensi yang melekat pada perolehan tingkat kedua dengan instrumental (I).
Menurut Nasution (1982: 26), Louis Allen (1986: 70), ada tiga fungsi motif, yaitu:
(1)         Mendorong manusia untuk menjadi penggerak atau sebagai motor yang melepaskan energi.
(2)         Menentukan arah perbuatan ke tujuan tertentu.
(3)         Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan untuk mencapai suatu tujuan dengan menghindari perbuatan yang tidak bermanfaat bagi pencapaian tujuan itu.
Berdasarkan teori motivasi di atas, timbul pertanyaan, mengapa orang berhasrat menjadi wirausaha? Menurut Dan Steinhoff & John F. Burgess (1993: 6) ada tujuh motif:
(1)   The desire for higher income.
(2)   The desire for a more satisfying career.
(3)   The desire to be self-directed.
(4)   The desire for the prestige that comes to being a business owner.
(5)   The desire to run with a new idea or concept.
(6)   The desire to build long-term wealth.
(7)   The desire to make a contribution to humanity or to a specific cause.
Dalam "Entrepreneur's Handbook", yang dikutip oleh Yuyun Wirasasmita (1994:8), dikemukakan beberapa alasan mengapa seseorang berwirausaha, yakni:
(1)          Alasan keuangan, yaitu untuk mencari nafkah, untuk menjadi kaya, untuk mencari pendapatan tambahan, sebagai jaminan stabilitas keuangan.
(2)          Alasan sosial, yaitu untuk memperoleh gengsi/status, untuk dapat dikenal dan dihormati, untuk menjadi contoh bagi orang tua di desa, agar dapat bertemu dengan orang banyak.
(3)          Alasan pelayanan, yaitu untuk memberi pekerjaan pada masyarakat, untuk menata masyarakat, untuk membantu ekonomi masyarakat, demi masa depan anak-anak dan keluarga, untuk mendapatkan kesetiaan suami/istri, untuk membahagiakan ayah dan ibu.
(4)          Alasan pemenuhan diri, yaitu untuk menjadi atasan/mandiri, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, untuk menghindari ketergantungan pada orang lain, untuk menjadi lebih produktif, dan untuk menggunakan kemampuan pribadi.
Menurut Zimmerer (1996: 3) ada beberapa peluang yang dapat diambil dari kewirausahaan, yaitu:
(1)   Peluang untuk memperoleh kontrol atas kemampuan diri.
(2)   Peluang untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki secara penuh.
(3)   Peluang untuk memperoleh manfaat secara finansial.
(4)   Peluang untuk berkontribusi kepada masyarakat dan menghargai usaha-usaha seseorang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar